Pro Kontra Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar (SD)
Meskipun masih dipandang sebagai bahasa asing, Bahasa Ingris telah menjadi sebuah bahasa yan harus dikonsumsi oleh semua orang khususnya di Indonesia. Dengan berdasar pada fenomena tersebut, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional diikuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 yang menyebutkan tentang pengembangan sumber daya manusia.
Pada awalnya sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya (Kebijakan Depdikbud Republik Indonesia Nomor 0487/14/1992 Bab VIII), akan tetapi setahun kemudian pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 menyatakan bahwa sekolah dasar bisa memberikan materi Bahasa Inggris lebih dini sebagai muatan lokal dan dapat dimulai di kelas 4 SD.
Reaksi Masyarakat Pendidikan
Pada awal dikeluarkannya kebijakan ini, masyarakat sangat menyambut positif kebijakan ini karena bisa mengembangkan sumber daya manusia khususnya bagi pendidikan di Indonesia. Akan tetapi belum adanya tujuan yang jelas terhadap pemberian materi Bahasa Inggris di sekolah dasar, hal ini memunculkan banyak pro kontra. Bagi sekelompok masyarakat yang kontra terhadap kebijakan ini mencoba mempertanyakan apakah kebijakan itu diikuti oleh kesiapan di lapangan? Baik itu tenaga pengajarnya ataupun bahan pengajarannya.
Kenyataan di Lapangan
Dalam beberapa kegiatan workshop “English for Young Leraners” yang diikuti oleh penulis, ada beberapa fakta yang terjadi di lapangan berkenaan dengan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia:
- Masih banyak guru Bahasa Inggris di Sekolah Dasar yang tidak mempunyai Background Knowledge Bahasa Inggris
- Tidak adanya acuan baik itu kurikulum maupun silabus yang jelas
- Tidak adanya fasilitas yang memadai sebagai pendukung pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar
- Tidak adanya sumber buku yang baik
Kesimpulan
Tujuan utama pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar adalah sebagai pengenalan terhadap anak akan Bahasa Inggris dan bagaimana anak akan merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa Inggris. Intinya bahwa dalam proses yang dibutuhkan anak adalah Fun learning . Jadi karena masih kurang siapnya pemerintah dan masyarakat pendidikan terhadap pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar maka tujuan pengembangan sumber daya manusia yang diinginkan pemerintah tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
Referensi
Bambang, Setiyadi.2006.Teaching English as A Foreign Language. Yogyakarta:Graha Ilmu
Brown, H.Douglas. 2001. Teaching by Principles. NY: Addison Wesley Longman,Inc.
Suyanto, Kasihani K.E.2007.English for Young Learners. Jakarta:Bumi Aksara
Sepakat banget dengan artikel tersebut. namun demikian, mungkin kendala pengajaran bahasa Inggris jauh lebih banyak lagi secara praktis terjadi di lapangan daripada 4 items di atas. simply, satu diantaranya yang sangat membuat saya risau. yah.. karena hanya di kolom comments, jadi gak bisa nulis banyak.
pernahkah diamati, ada beberapa sd yang mengandalkan LKS (Lembar Kerja Siswa) dari satu brand penerbit tertentu sebagai kerangka pengajaran. celakanya, berhubung yang pakai itu LKS adalah sd-sd yang berlabel bonafit, maka sd-sd lainnya pun mengekor. bahkan, materi2 dalam LKS inipun kontan saja di upload sebagai materi inti pengajaran bahasa inggris yang disepakati dalam KKG. Sayapun yakin curiga akhirnya, bahwa ada brand penerbit yang sengaja menfaatkan kegalauan guru2 bahasa inggris atas kerancuan kurikulum dengan memonopoli pasar buku. Brand itupun menjanjikan komisi yang lumayan ke sekolah. Ngeri kan?! lagi… dan lagi…. for the sake of money!
Lalu bagaimana dengan isi materi LKS itu? Kalo harus dijawab, isi materinya cukup bisa membuat raut muka anak usia 10 tahun tampak sudah selanjut usia 40 tahunan alias BIKIN STRESS!!!
Apapun kondisinya, bagaimanapun cara saya di ajar… yang penting saya bangga ‘menjadi indonesia dengan bahasa inggris’
more literature, more practice…
what else? jangan cuma teori tapi juga leat realita dan banyak praktek keluar misalnya kunjungan ke SD. gitu aja… trima kasih telah menjadi pembimbing yang baek… hehehehehe
setuju pak……….atur aje. palagi di kelas EYL yg bapak ampu kan sudah ada kunjungan ke SD – SD jd menurut kite orang sih dah bagus tuh arah pengajaran EYL di FKIP. Maju Terus!